SINOPSIS Bride of the Water God Episode 8 Part 2

Sekretaris Min menyadari ada yang aneh dari Hoo Ye. Dia bahkan tidak melihat Ja Ya padahal mereka berpapasan. Ja Ya jelas tidak terima diacuhin.

Dia hendak mearih tangan Hoo Ye, tapi Hoo Ye refleks menarik tangannya dengan kasar… sebelum kemudian ingat untuk bersikap sopan dan beralasan kalau dia sedang sibuk lalu buru-buru pergi.

Ja Ya heran, ada apa dengan Hoo Ye. Kenapa dia bersikap sedingin itu. Ah, tidak. Maksudnya, kenapa dia sibuk sekali. Dia kan tidak pernah begitu. Sekretaris Min malas meladeninya, Hoo Ye memang selalu sibuk kok, dia takkan tak mungkin selalu bersikap sama.

Ja Ya ngotot kalau Hoo Ye tidak pernah bersikap sedingin itu sebelumnya. Loh, Ja Ya sendiri kan yang selalu mengkritik Hoo Ye dan mengatainya baj*ngan. Lalu untuk apa Ja Ya datang kemari hari ini.

Ja Ya berkata kalau dia datang untuk berdiskusi karena sekarang dialah penanggungjawab Block World. Sekretaris Min dingin menanggapinya, mereka kan cuma perlu menyetujui kontrak, tak banyak yang harus didiskusikan. Kontraknya akan dikirim ke Ja Ya secepat mungkin.

Ja Ya terus ngotot mau mendiskusikan masalah ini langsung dengan Hoo Ye. Dia bahkan menyatakan mau menginap di sini selama beberapa malam dan melakukan yoga di sini. Tapi, kenapa Hoo Ye bersikap seperti itu tadi?

Sekretaris Min tetap acuh sampai Ja Ya kesal, “Kau pikir aku begini karena aku menyukainya? Tidak! Aku hanya merasa ada yang aneh, itu saja.”

Tapi Sekretaris Min yakin kalau Ja Ya memang menyukai Hoo Ye. Dia sudah tahu sejak awal. Dia sering bertemu orang-orang seperti Ja Ya di gereja. Setiap kali selesai misa, ada banyak orang yang mendekatinya dan menganggapnya ‘oppa’, dan mereka anak SMA. Pfft!

“Mereka menunjukkan perasaan mereka dengan menyiksa orang yang mereka sukai. Itu adalah cara yang dilakukan anak SD.”

So Ah masih galau menatap akta penjualan tanahnya. Sang Yoo masuk tak lama kemudian untuk menyerahkan surat-surat dan memberitahunya kalau dia Ayahnya Bong Yeol yang merupakan pimpinan cabang bank, menyuruhnya datang untuk membicarakan masalah deposit pinjaman bank.

So Ah merasa itu tidak perlu lagi sekarang ini karena klinik ini sudah mau tutup. Sang Yoo melihat tiket taman hiburan dan langsung penasaran, dengan siapa So Ah ke sana. Dia tidak setuju kalau So Ah pergi dengan si pria tetangga itu.

So Ah langsung mengusirnya dengan kesal dan mengeluarkan tiket itu. Pipinya langsung memerah teringat ucapan Habaek semalam. Sang Yoo mendadak muncul lagi dan langsung ngomel-ngomel.

So Ah berusaha melarikan diri darinya, tapi malah mendapati Hoo Ye sudah ada di depan pintu dan mengklaim kalau dia mau berk onsultasi. So Ah gugup tak nyaman saat dia memulai sesi konsultasinya dan menyebutkan berbagai alasan kenapa seseorang tidak bisa tidur nyenyak.

Hoo Ye mengklaim kalau dia teringat masa lalunya. Dia berniat menguburnya, tapi terjadi sesuatu yang membuatnya teringat kembali akan masa lalunya. Dia tak pernah membicarakannya dengan siapapun, makanya sekarang dia agak canggung.

“Aku seorang dokter, jadi jangan segan memberitahuku.” Ujar So Ah menyemangatinya.

Hoo Ye menatapnya sejenak sebelum kemudian mulai bercerita bahwa dia tak tahu siapa ibunya dan ayahnya memperlakukannya bagai seorang monster karena dia tidak seharusnya terlahir ke dunia ini.

“Soo Chi (Aib). Itulah namaku.” Ayahnya takut keberadaannya diketahui orang lain, karena itulah dia dikurung sangat lama. “Lalu, di sebuah malam yang dingin. Ayahku… memukuliku.”

“Bintang, bulan, awan bagai ditelan oleh kegelapan malam. Aku tak takut dengan kegelapan. Aku malah sudah terbiasa. Apa yang kutakuti daripada kegelapan adalah udara yang tak cukup familier bagiku.”

Dalam flashback, tampak Hoo Ye remaja terpakar di tanah setelah melewati gerbang lahan batu. Darah mengucur dari mulutnya dan jatuh ke sebuah batu. Saat cukup kuat untuk bangkit, dia tampak kebingungan memperhatikan sekitarnya.

Hoo Ye berkata bahwa udara di dunia ini, terasa berbeda dengan udara yang selama ini dihirupnya. Sangat berbeda. Dia mengaku kalau dia tak tahu tempat itu, bahkan sampai sekarang dia tak ingin mengetahuinya. Yang dia inginkan hanyalah berlari.

Saat Hoo Ye remaja melewati sebuah hutan, tiba-tiba dia melihat sebuah cahaya di kejuahan. Dia langsung berlari mengejar cahaya itu. Tapi dia menghentikan ceritanya di situ untuk memperhatikan So Ah yang sabar mendengarkannya.

Dia menyadari tatapan So Ah bukan pandangan simpati, penghinaan ataupun rasa takut. Dia jadi yakin kalau So Ah bukan bagian dari ‘mereka’. Tapi So Ah mungkin akan berbeda jika So Ah mengetahui siapa dia sebenarnya. Tapi kalau So Ah bukan bagian dari mereka, lalu dia apa? Dan bagaimana mereka bisa mengetahuinya?

Tapi dia tak sempat memikirkannya lebih lanjut karena So Ah menegurnya. Hoo Ye berkata kalau cerita berakhir happy ending. Malam itu dia menjadi manusia dan monster, tapi saat itu pula seseorang menyelamatkannya.

Berkat orang itulah dia bisa menjadi manusia dan hidup dengan baik. Orang itu kemudian mengadopsinya dan dari orang itulah dia mendapatkan marga Shin.

Saat mengantarkan Hoo Ye keluar, So Ah menasehatinya untuk mencoba tidur tanpa obat tidur dan cobalah berhenti memikirkan masa lalunya dengan dengan melakukan berbagai hal. Jika belum berhasil juga, dia boleh datang konsultasi lagi.

“Kau bilang ingin menjadi orang baik, kan? Dengan membantu orang dan berkontribusi baik bagi masyarakat, kau bisa bermanfaat bagi dunia ini.”

So Ah sekarang mengerti kenapa Hoo Ye berkata seperti itu waktu itu. Hoo Ye pasti meragukan kesungguhan hatinya sendiri. Karena itulah So Ah meminta maaf. Dia yakin kalau Hoo Ye akan terus hidup seperti itu kedepannya.

“Aku yakin pepohonanmu akan menjadi sebuah hutan yang lebat.”

Hoo Ye benar-benar tercengang mendengar ucapan So Ah hingga dia tak bisa berkata-kata. Tanpa dia sadari, ada seorang dewa kecil yang sedang mengawasinya lalu melaporkannya ke Bi Ryeom.

Moo Ra langsung ngomel-ngomel mengkritiki Bi Ryeom yang suka bergaul dengan dewa kecil, pantas saja Habaek membencinya. Bi Ryeom santai, Habaek membencinya karena berbagai alasan. Dia lalu membawa mereka pergi untuk mengawasi Hoo Ye yang baru tiba di parkiran.

Moo Ra tak suka dengan perbuatan mereka ini. Bagaimana kalau mereka salah dan Hoo Ye ternyata manusia biasa. Moo Ra tak percaya Habaek? Bukan begitu.

Bi Ryeom masa bodoh dan langsung menjentikkan jarinya dan seketika itu pula mobilnya Hoo Ye tiba-tiba menyala dengan sendiri dan melaju tepat ke arah Hoo Ye. Moo Ra panik dan berusaha menghentikan Bi Ryeom. Tapi Bi Ryeom terus menjalankan rencananya.

Mobil itu melaju dengan sangat cepat ke Hoo Ye tapi dia bergeming. Malah Moo Ra yang panik sendiri dan akhirnya memakai kekuatannya untuk membelokkan mobil itu dari Hoo Ye.

Dia langsung merutuki Bi Ryeom dengan kesal dan pergi, sama sekali tak melihat Hoo Ye yang baru menyadari kehadiran mereka dan menatap Bi Ryeom tajam.

Bi Ryeom heran, apa Moo Ra terpengaruh oleh Hoo Ye hingga dia memakai kekuatannya untuk melindungi Hoo Ye. Atau Moo Ra punya perasaan pada Hoo Ye. Moo Ra balas menyalahkan Bi Ryeom, masih meyakini kalau Habaek mungkin saja salah.

Dewa pelindung tidak boleh menyakiti manusia di dunia mereka. Jika mereka melanggar aturan itu maka dia tidak akan bisa kembali ke Alam Dewa. Dia langsung menelepon Habaek dan memperingatkannya untuk berhati-hati mulai sekarang. Habaek langsung menelepon Bi Ryeom dan menyuruhnya untuk mengatur jadwal pertemuan dengan Hoo Ye.

So Ah heran memikirkan ajakan Habaek pulang bareng tadi. Apa maksudnya, Habaek akan menjemputnya. Dia langsung tersipu malu memikirkan itu. Seom Mi tiba-tiba muncul dengan heboh, masih penasaran kenapa dia tidak bisa membaca peruntungan orang itu.

Mereka lalu duduk di cafe dan So Ah menggerutui Seom Mi yang bahkan tidak bisa mengenali dewa nyata di hadapannya, mending dia tutup saja bisnis perdukunannya itu. Seom Mo jelas melongo mendengarnya, So Ah lagi sakit yah?

Terima saja kenyataan ini. Kalau Seom Mi tidak mempercayainya, lalu siapa yang akan percaya. kalau begitu, Seom Mi menuntut So Ah untuk mempertemukannya dengan ‘orang itu’.

Dan orang yang dimaksudnya ternyata Soo Ri. Pfft! Dia bahkan langsung tersipu malu saat Soo Ri berdiri di hadapannya dan menolak melepaskan tangan Soo Ri saat mereka jabat tangan.

Habaek pergi ke Baekryeonga untuk menemui Hoo Ye. Saat Hoo Ye mendekat, Habaek bisa melihat sesuatu yang menyala di dadanya Hoo Ye. Hoo Ye mengkonfirmasi jati dirinya. Dan karena Habaek bisa mengenalinya, Hoo Ye menduga kalau Habaek adalah pemilik atau calon pemilik lahan batu.

“Jika kau mengetahuinya maka tunjukkan rasa hormatmu.”

“Aku bukan seseorang yang berasal dari sana. Jadi, apa aku harus melakukannya?”

Habaek sinis mendengar Hoo Ye menyebut dirinya sebagai ‘Seseorang’. Hoo Ye tak peduli apapun yang Habaek pikirkan, yang pasti dia tidak ingin cari musuh dengan Habaek. Mereka berdua, tak punya urusan satu sama lain.

Habaek juga tak peduli. Tapi dia harus mengecek sesuatu. Jika tebakannya benar, maka Hoo Ye harus membuktikan dirinya adalah monster. Dia langsung membuka paksa baju Hoo Ye dan melihat sesuatu menyala di dalam dadanya.

Ini tanda yang ditinggalkan Joo Dong. Kenapa bisa di tubuh Hoo Ye. Jelaskan! Hoo Ye menolak, dia tidak kenal siapa itu Joo Dong dan kenapa juga dia harus memberi Habaek alasan atas apa yang ada di tubuhnya.

“Ini adalah tanda dari Joo Dong dan Negeri Bumi. Lalu apakah bed*bah gila yang menyalahgunakan Alam Dewa dan memberiku kehidupan abadi adalah Dewa Negeri Bumi. Kau tidak akan bisa menghilangkan tanda itu.”

Hoo Ye gregetan, sepertinya Habaek belum tahu tentang kekuatan yang dimilikinya. Habaek balas membentaknya, sebaiknya Hoo Ye periksa apakah kekuatannya itu akan bisa berfungsi padanya atau tidak.

Tapi tiba-tiba Moo Ra muncul dan langsung menggunakan kekuatannya untuk menarik mundur Habaek dan menyuruhnya pergi. Gadis tuna netra datang memanggil Hoo Ye saat itu dan tanya apakah ada yang datang.

Habaek dan Moo Ra terpaksa pergi. Habaek berusaha menjelaskan. Tapi Moo Ra menghentikannya, dia yang mengurus Hoo Ye. Habaek tidak perlu membuktikan apapun padanya, dia kan Raja mereka. Dia meminta maaf atas batu Dewa itu, sebaiknya Habaek tunggu saja mereka menyelesaikan masalah ini.

So Ah gelisah menunggu Habaek yang belum datang juga. Tapi kemudian Sang Yoo masuk dan mengingatkannya untuk pulang, hari ini kan hari peringatan kematian Ibunya So Ah.

So Ah kaget, benar-benar lupa dengan hal itu. Dia langsung pulang dan kerepotan sendiri menyiapkan sesajen sambil mengomeli dirinya sendiri. Saking bingungnya, dia tak sengaja menumpahkan wajan panas dan hampir mengenai kakinya.

So Ah langsung gemetar dengan mata berkaca-kaca, teringat bagaimana pertama kali dia menangis seorang diri di hadapan makam sang ibu.

“Ibu tidak pernah makan apapun. Yang Ibu lakukan cuma minum-minum dan lihatlah apa yang terjadi. Mereka tidak menjual alkohol di sana. Apa yang akan Ibu makan kalau begitu? Kalau tahu hal ini akan terjadi, Ibu seharusnya makan yang banyak dulu.”

Habaek baru datang saat dia mendengar keributan di rumah So Ah. Saat dia masuk, dia mendapati So Ah menangis di lantai dan dapur kacau balau. Apa yang terjadi?

“Karena aku, segalanya tak ada yang berjalan mulus.” Isak So Ah.

Habaek akhirnya menemani So Ah mengunjungi makam sang ibu tanpa membawa sesajen apapun. So Ah tak nyaman dengan tatapan Habaek, jadi Habaek berpaling saat So Ah memberikan penghormatannya.

“Ibu, karena aku kerasukan hantu air, jadi aku tidak menyiapkan apapun.” Ujar So Ah. Habaek sontak menatapnya tajam, tapi dia membiarkannya. “Aku kemari agar Ibu tidak kesulitan di sana. Kuharap Ibu bisa kenyang hanya dengan melihat wajah cantik putrimu.”

Mereka lalu duduk bersama di sana dan So Ah menceritakan depresi yang diderita Ibunya setelah Ayahnya meninggalkan mereka. Setiap hari yang dilakukan Ibunya hanya minum-minum hingga ia meninggal akibat kanker hati.

“Saku memang sangat membenci ayahku, tapi aku lebih benci pada ibuku. Kurasa ibu dan ayah sangat geois dan selalu mengutamakan diri mereka sendiri.”

Dia penasaran apakah Habaek pernah menyesali sesuatu atau merasa malu selama 2800 tahun dia hidup. Tidak. So Ah mengaku kalau dia menyesali banyak hal dan merasa malu sekali, dan hal itu sangat amat memalukan.

Suatu hari sepeninggal Ibunya, So Ah memutuskan untuk balas dendam pada Ayahnya. Dia malu saat dia bercerita kalau dia melompat ke sungai pada musim dingin. Rasanya sangat dingin sampai rasanya dia tak tahan menunggu mati dan ingin keluar saja dari sana.

Saat itulah kemampuan renangnya tiba-tiba naik 100 kali lipat hingga akhirnya dia selamat. Tapi sejak saat itu, dia tak bisa lagi berenang. So Ah buru-buru menghapus air matanya dengan malu, syukurlah sekarang gelap.

“Kau harus bersyukur karena kekuatanku menghilang. Jika tidak, takkan segelap ini.”

So Ah tak mengerti maksudnya. Habaek langsung mengulurkan telunjuknya ke langit dan membuat gerakan memutar. Jika dia melakukan itu maka kunang-kunang air akan muncul. Apa So Ah bisa melihatnya? Nggak tuh.

“Lihatlah dengan hatimu.”

So Ah mencoba mengikuti petunjuknya dan saat itulah tiba-tiba dia melihat seekor kunang-kunang air muncul di udara. Sesaat kemudian, sekumpulan kunang-kunang air, berterbangan mengelilingi mereka dan senyum So Ah pun mengembang seketika.

Setibanya di rumah, So Ah tanya apa maksud Habaek dengan pulang bersama. Habaek menegaskan kalau maksudnya adalah dia akan menjemput So Ah. Kenapa? Habaek punya alasannya sendiri. Tadi dia datang ke klinik tapi So Ah sudah pulang.

Senang memikirkan ucapan habaek barusan, So Ah mengetuk pintu loteng dan mengajak Habaek pulang bersama besok dan melakukan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan kemarin. Seperti misalnya membawa Habaek ke tempat-tempat yang bagus dan mentraktirnya makanan enak.

So Ah gugup menanti jawaban Habaek. Tapi senyumnya langsung mengembang saat Habaek menyetujuinya. Tapi senyumnya kembali menghilang saat dia melihat akta penjualan tanahnya.

Keesokan paginya, dia tanya ke Soo Ri. Jika dia menjual tanahnya, itu tidak akan mengganggu jalan habaek untuk menjadi Raja, kan? Soo Ri mengiyakannya. Baguslah, kalau begitu. Tapi, Habaek pernah bilang ‘Di dunia kita, mereka selalu menunggu-nunggu datangnya kesempatan’. Apa maksudnya itu?

Itu karena ada yang pernah ingin merebut posisi Habaek. Waktu itu, Raja Negeri langit sangat tamak dan dia melakukan hal jahat pada Habaek. Tapi menyadari dirinya sudah keceplosan, Soo Ri langsung diam dan bergegas pergi kerja.

So Ah jadi semakin tak tenang di klinik dan tiba-tiba saja berubah pikiran. Dia memberitahu Sang Yoo kalau mereka akan tetap melanjutkan bisnis mereka dan menyuruh Sang Yoo untuk mencari tahu tentang perusahaan yang menyediakan jasa promosi klinik. Dan mintalah bantuan Ayahnya Ma Bong Yeol.

Sang Yoo jelas heran mendengarnya. Apalagi So Ah tiba-tiba tanya tentang macan tutul Korea, apa ada telepon tentang itu? Tidak. So Ah sontak menggerutu kesal, bahkan macan tutul Korea menghilang saat dibutuhkan.

Dia lalu pergi menemui Hoo Ye untuk membatalkan penjualan tanahnya, dia bersedia membayar dendanya. Saat Hoo Ye tanya alasan, dia asal menjawab karena kotoran macan tutul berusia 100 tahun ditemukan di tanahnya.

Sebagai warga negara Korea yang baik, dia harus membiarkan lembaga konservasi korea mengkonservasi kotoran tersebut. Hoo Ye tetap sopan dan berkata kalau dia akan mendiskusikan masalah ini didalam rapat nanti.

So Ah bergumam sendiri dalam perjalanan keluar, sepertinya dia sudah kerasukan hantu sampai melakukan hal itu, kerasukan hantu air. Habaek meneleponnya untuk bilang kalau dia sudah berangkat sekarang. So Ah pun pergi tanpa menyadari Hoo Ye yang mengawasinya dari lantai atas.

So Ah menunggu di tempat janjian mereka, tanpa menyadari ada seseorang atau sesuatu yang sedang mengawasinya. Dia lalu mengeluarkan peta Vanuatu, sepertinya dia harus menunggu lebih banyak karena masih ada banyak hal yang harus So Ah lakukan di sini.

Taksi yang membawa Habaek akhirnya berhenti di seberang jalan. Habaek tersenyum melihat So Ah… sampai saat dia melihat sesuatu yang langsung membuatnya cemas. Habaek langsung lari menyeberang jalan dengan panik. So Ah heran melihatnya, ada apa dengan Habaek?

Incoming search terms:

  • download subtitle indonesia the k2 episode 10