SINOPSIS Bride of the Water God Episode 8 Part 1

Sinopsis Bride of the Water God Episode 8 – 1
Seorang anak kecil tampak keluar dari sebuah gua sambil memakan dedaunan kering lalu membawa masuk setumpuk dedaunan kering.

2600 tahun yang lalu di Negeri Air.

Habaek tanya ke Imam Besar, bagaimana dewa terlahir. Dengan antusias dia membuka sebuah dokumen yang menceritakan tentang kelahiran manusia. Jika pria dan wanita saling mencintai, mereka akan melakukan segala sesuatu bersama-sama kemudian terbentuklah manusia baru didalam perut si wanita yang kemudian keluar dari dalamnya. Dan itu namanya ‘Melahirkan Bayi’.

Terus kalau dewa bagaimana terbentuknya, mereka kan tidak punya bayi? Imam Besar tak nyaman dengan pertanyaan itu dan berusaha menghindar, tapi Habaek terus saja nyerocos. Imam Besar akhirnya mau bicara dan memberitahu kalau Dewa langsung saja muncul dengan sendirinya dan bukannya dilahirkan.

Mereka bisa saja dilahirkan sebagai manusia atau raja semesta alam yang menciptakan kita atau bisa saja mereka adalah hadiah dari alam. Habaek bingung dengan ucapan ambigunya. Imam Besar menjelaskan kalau inilah perbedaan antara manusia dengan dewa.

“Dewa pada dasarnya memang cukup ambigu. Dan terserah manusia untuk mencari tahu maksud kita.”

Manusia selalu bertanya mengapa dan selalu mencari alasan yang logis. Mereka membuat segala situasi di sekitar mereka menjadi masuk akal. Tapi dewa hanyalah dewa, keberadaan dewa melampaui segala alasan logis.

Mereka lalu masuk ke pintu air yang kemudian membawa mereka ke tempat Bi Ryeom dan Moo Ra berada. Imam Besar melanjutkan bahwa mereka tidak bisa menjadi orang tua bagi siapapun.
Akan tetapi… ada beberapa dewa yang melahirkan anak dengan meminjam tubuh manusia. Dan anak mereka menjadi makhluk setengah manusia dan setengah dewa. Dan anak itu hidup abadi.

“Makhluk semacam itu bisa membuat aib bagi Alam Dewa. Makhluk seperti sungguh ada?” Tanya Moo Ra.

Imam Besar membenarkan keberadaan makhluk semacam itu, walaupun dia tak pernah melihatnya. Habaek penasaran, apa makhluk itu bisa disebut sebagai dewa.

Menurut Imam Besar, makhluk seperti itu tidak bisa disebut dewa karena rupa dewa tidak akan pernah berubah sepanjang hidup mereka. Tapi makhluk itu juga tidak bisa disebut manusia karena makhluk itu punya kekuatan khusus. Tapi kekuatan mereka juga tidak terlalu bermanfaat seperti kekuatan dewa.

Kekuatan dewa membantu mereka untuk mengatur dan menjaga semua makhluk. Sementara kekuatan makhluk setengah dewa setengah manusia itu bisa membinasakan makhluk hidup. Element kekuatan mereka adalah api. Karena itulah tidak nyaman untuk menjadikan makhluk seperti itu untuk menjadi pasangan mereka.

“Apa mereka lebih kuat daripada Habaek?” Tanya Bi Ryeom antusias.

Moo Ra tak percaya, itu tidak mungkin. Tapi Imam Besar mengklaim kalau dia juga tak tahu. Moo Ra ngamuk-ngamuk tak terima, sudah pasti Habaek yang paling kuat.

Habaek terdiam cemas. Imam Besar meyakinkan kalau itu tidak mungkin terjadi, lagipula Habaek tercipta untuk menjadi raja.

Moo Ra tak percaya dengan cerita Imam Besar tadi. Lagipula di dunia manusia, ada banyak cerita tidak masuk akal seperti cerita tentang beruang yang makan bawang untuk menjadi manusia.

Bi Ryeom masih terkagum-kagum memikirkan makhluk yang jauh lebih kuat daripada Habaek itu. Moo Ra kesal, Imam Besar kan tidak pernah berkata begitu. Bi Ryeom mengoreksi, Imam Besar bilang kalau dia tidak tahu, itu sih sama saja dengan mengakui kebenarannya.

Memikirkan makhluk itu bisa mengontrol api, Bi Ryeom berpikir mau menangkapnya dan menjadikannya pandai besi. Moo Ra malah menyarankannya untuk kabur saja jika dia bertemu makhluk itu, karena sudah pasti makhluk itu jauh lebih kuat daripada Bi Ryeom.

“Dan Habaek, sebaiknya kau mengabaikan mereka jika kau bertemu mereka. Kekuatan untuk membinasakan? Itu sih bukan dewa.”

Habaek masih sangat cemas dan tanya ke Imam Besar, apakah makhluk itu jahat. Imam besar berkata bawha mereka bisa baik jika mereka menggunakan kekuatan mereka demi kebaikan. Tapi jika sebaliknya, maka mereka jahat.

“Kenapa? Apa anda takut?”

“Mana mungkin aku takut pada makhluk semacam itu.” Sangkal Habaek. “Lagipula kami hidup abadi.”

Tapi Imam Besar menegaskan bahwa hidup abadi itu berbeda dari keabadian. Dewa bukan lagi dewa jika mereka dilupakan oleh manusia. Dia tidak akan benar-benar hidup bahwa sekalipun dia hidup. Ada banyak dewa yang gagal hidup abadi.

Habaek makin gugup mendengarnya, “Dewa kehilangan status mereka sebagai dewa hanya akrena dilupakan oleh manusia? Apa makhluk itu punya kekuatan seperti ini?”

Jangan khawatir. Bukan berarti makhluk itu punya kekuatan tak terbatas. Makhluk seperti itu tidak diterima di dunia dewa maupun dunia manusia, jadi mereka mungkin hidup dengan menyembunyikan identitas mereka. (Ah, anak kecil di gua tadi)

“Tapi anda pasti bisa mengenali mereka dengan hanya satu tatapan, Tuan Habaek. Karena anda adalah dewa yang akan menjadi raja.”

Habaek menangkap Hoo Ye dan berbisik dengan senyum licik, “Ketangkap kau.”

Hoo Ye sontak mendelik kaget (Dia makhluk setengah manusia setengah dewa?). Hoo Ye cepat-cepat menguasai dirinya dan mengklaim kalau dia tak mengerti apa maksud Habaek. Dia berusaha menghindar, tapi Habaek terus mengkonfrontasinya.

Ibunya Hoo Ye hidup dan mati seperti manusia, sementara ayahnya hidup abadi. Dia yakin kalau darah di batu itu adalah darahnya Hoo Ye, iya kan? Hoo Ye makin gugup mendengarnya.

Cemas kalau Habaek sudah tahu kalau dia sudah menjual tanahnya, So Ah berusaha menyela dan menyeret Habaek pergi. Tapi Habaek jadi semakin marah dan mengira kalau So Ah mengetahui jati diri makhluk ini yang sebenarnya. So Ah jelas tak mengerti maksudnya.

Moo Ra muncul saat itu dan buru-buru meminta maaf atas sikap Habaek. Hoo Ye pun bergegas pergi dari sana. Habaek menyuruh Moo Ra untuk tinggal bersama Bi Ryeom untuk sementara waktu, ada sesuatu yang harus dia pastikan.

Hoo Ye kembali ke kantornya dan menatap papan namanya dan foto-fotonya dengan cemas. Memikirkan ucapan Habaek tadi, ucapan So Ah tentang beberapa makhluk yang punya kekuatan super dan juga ucapan Bi Ryeom yang mengklaim kalau dia dan Moo Ra punya pekerjaan yang sama, Hoo Ye mulai mengerti segalanya. Dia langsung gemetar, berusaha menahan emosinya.

Dalam perjalanan pulang, So Ah cemas mengira Habaek sudah tahu kalau dia sudah menjual tanahnya. Tapi apa maksud Habaek tentang jati diri Hoo Ye.

Soo Ri dan trio dewa mendiskusikan masalah ini bersama. Moo Ra tak percaya mendengarnya, mana mungkin CEO Shin itu setengah dewa. Dia lebih kuat daripada Tuan Habaek? Tanya Soo Ri. Dan Moo Ra langsung menempeleng kepalanya.

Moo Ra langsung marah karena Habaek malah terang-terangan memberitahu Hoo Ye tentang apa yang diketahuinya, dia kan sudah bilang untuk mengabaikannya saja jika dia bertemu makhluk semacam itu.

Mana sekarang Habaek kehilangan kekuatannya lagi. Bagaimana kalau CEO Shin itu beneran setengah dewa dan punya niat jahat. Habaek mengklaim kalau hanya itu cara satu-satunya untuk mengungkapkan jati diri pria itu.

“Aku yakin kalau dia ada hubungan dengan hilangnya Joo Dong.”

Saat mengantarkan Habaek, Bi Ryeom yang sedari tadi cuma diam, berpendapat kalau ini cuma asumsinya Habaek saja karena habaek bahkan tidak punya bukti. Habaek sinis mendengarnya, mungkin karena kelamaan hidup di sini sampai Bi Ryeom sudah seperti manusia saja dan butuh bukti untuk itu.

Bi Ryeom mengklaim kalau dia harus mengadopsi metodenya manusia biar dia bisa menyamai kemampuan Habaek dan Moo Ra. Sebaiknya mereka memastikannya dulu. Kebetulan sekali makhluk seperti itu dekat dengan So Ah.

Dia menawarkan diri untuk menyelidiki bagaimana So Ah dan Hee Ye bisa dekat dan apa hubungan mereka. Tapi Habaek melarangnya, jangan menyeret So Ah kedalam urusan mereka.

Bi Ryeom tidak mengerti kenapa, hamba dewa kan milik mereka. Jadi dia tidak bisa membiarkan Hoo Ye mengambil milik mereka. Mereka tidak boleh membiarkan So Ah salah mengira Hoo Ye sebagai dewa dan melakukan sesuatu untuknya seperti mencuci kaos kakinya Hoo Ye.

“Tidak mungkin. Nona Hamba lumayan angkuh. Dia tidak akan mau mencuci kaos kaki.” Kata Soo Ri.

“Jangan lupa kalau hamba yang angkuh itu hanyalah manusia yang bodoh.”

“Kurasa kau tidak punya hak berkata seperti itu. Apa kau pikir kau punya hak untuk mencemaskan hal semacam itu karena Negeri Langit yang membuat Nak Bin lupa tentang kebodohan manusia?”

Habaek mengingatkan bahwa Negeri Air dan Alam Dewa memang memaafkan rajanya Bi Ryeom, tapi itu bukan berarti kalau mereka memaafkan perbuatannya. Bi Ryeom hanya bisa diam menahan kesal mendengar itu.

Tapi begitu menurunkan Habaek, Bi Ryeom balas mengkonfrontasi Habaek. Bukankah Habaek yang telah melibatkan manusia kedalam semua masalah ini.

Anggap saja kalau So Ah tidak akan memihak Hoo Ye karena dia benar-benar hamba yang setia. Tapi bagaimana dengan Hoo Ye. Sebagaimana mereka mencurigai saat-saat dia bersama So Ah, Hoo Ye juga pasti penasaran dengan saat-saat yang So Ah habiskan bersama Habaek.

“Mungkin juga dia meyakini kalau dia berhak memiliki seorang hamba juga. Entahlah. Seperti yang kau bilang, aku kelamaan hidup di dunia manusia, instingku jadi tumpul. Jadi kau dan insting tajammu saja yang mengurusnya sendiri.”

Dia langsung pergi, meninggalkan Habaek yang cemas. Soo Ri juga semakin menambah kecemasannya saat dia memikirkan kemungkinan kalau si setengah dewa itu punya rencana jahat pada So Ah.

So Ah menatap kontrak penjualan tanahnya dengan cemas. Apalagi saat teringat ucapan Habaek bahwa dia akan dituduh sebagai Raja yang tidak mampu melindungi sebidang tanah. Tapi sedetik kemudian, dia memutuskan untuk masa bodoh, dia kan menjual tanah miliknya sendiri.

“Aku akan mendongkkan kepalaku dan menghadap langit. Aku tidak malu sama sekali!”

Tapi tepat saat itu juga, petir di langit tiba-tiba menggelegar mengagetkannya. Itu sebenarnya ulah Bi Ryeom yang menjentik-jentikkan jarinya dengan kesal. Tapi kemudian Moo Ra menelepon dan membentaknya untuk berhenti, berisik!

Bi Ryeom mengklaim kalau ini adalah peringatannya untuk si setengah dewa itu. Bi Ryeom kesal memikirkan ucapan Habaek tadi. “Si kep*rat itu. Dia selalu mengungkitnya setiap kali aku hampir melupakannya. Makhluk setengah dewa? Sepertinya waktu bermain sudah selesai.”

Hoo Ye pun melihat petir yang menggemuruh di langit itu dan tampak memikirkan sesuatu.

Habaek pergi menemui So Ah di kliniknya, tapi hanya ada Sang Yoo jadi Habaek memutuskan duduk dan menunggu di sana. Sang Yoo heran kenapa Habaek musti datang kemari segala, katakan saja apapun yang perlu dikatakannya di rumah.

Tapi, apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Pokoknya Habaek tidak boleh di sini, So Ah sudah punya pacar. Dia yakin kalau So Ah menampung Habaek di rumahnya cuma karena So Ah itu baik hati. Pacarnya So Ah itu orang yang hebat. Habaek tetap diam dan berusaha menahan kesal mendengar ocehan Sang Yoo.

So Ah akhirnya kembali saat itu dan langsung kaget melihat Habaek dan cepat-cepat menyembunyikan kontrak penjualan tanahnya.

Mereka lalu duduk di meja kerjanya So Ah. Sang Yoo memberikan minuman untuk mereka. Tapi saat Habaek hendak mengambil cangkirnya, So Ah malah menukarnya dengan cangkirnya sendiri. Ada cacat di bibirnya. Habaek sontak panik memegangi bibirnya.

Tapi maksudnya So Ah adalah cacat di bibir cangkirnya. Orang bilang, cacat di peralatan makan itu bisa sial. “Kalau aku sih tidak masalah, aku tidak mungkin lebih sial daripada sekarang ini. Kenapa kau datang kemari?”

“Aku ingin pulang bersamamu.” Ujar Habaek. So Ah hampir tersedak saking kagetnya.

Mereka akhirnya berjalan pulang bersama malam harinya. Habaek menggerutu di tengah jalan, maksudnya pulang bareng tuh naik mobilnya Moo Ra bersama. So Ah berkata kalau dia meminjamkan mobilnya pada Sang Yoo, karena itulah keinginan Sang Yoo.

Mengalihkan topik, Habaek penasaran apakah So Ah benar punya sesuatu yang namanya ‘Pacar’? Dia nyerocos berkata kalau dia sudah mencari tahu tentang arti ‘Pacar’ dan ‘Kencan’. Jadi, apakah So Ah dan CEO hotel itu punya hubungan kasih sayang.

So Ah gugup menyangkalnya, mana mungkin. Menyinggung permintaan maaf Habaek yang waktu itu, So Ah juga meminta maaf sekarang. Dia tidak mengatakan alasannya dan hanya berjanji akan mengajak Habaek ke tempat-tempat bagus dan memberinya makan makanan enak, dia juga berjanji akan membelikan baju-baju bagus untuk Habaek.

“Anggap saja ini perta perpisahan lebih awal.”

Habaek bingung, apa sebenarnya yang sedang dilakukan So Ah. So Ah berkata kalau dia hanya sedang berusaha membuat perasaannya lebih baik.

Beberapa saat kemudian, Habaek jejeritan gaje naik roller coaster dan jejeritan makin heboh saat masuk ke rumah hantu. Jadinya malah hantunya yang kaget sama Habaek sampai So Ah harus bergegas menutup mulutnya.

Dia terus ketagihan naik roller coaster sampai So Ah harus menyeretnya keluar dari sana. Habaek protes, tidak baik seorang hamba menghalang-halangi tuannya.

“Tidak baik bagi seorang raja untuk membahayakan hidupnya demi sesuatu semacam itu,” balas So Ah.

Habaek terpana menatapnya, “Imutnya.”

“Kau bilang apa?”

“Kau imut. Sungguh.”

So Ah sontak tersipu malu mendengarnya, rasanya aneh dipanggil ‘imut’ di usianya yang sekarang. Habaek santai mengingatkan So Ah kalau dia berusia 2800 tahun.

Habaek tanya kenapa So Ah ingin pergi ke tempat banana boat berada. Karena So Ah merasa bisa menenangkan jiwa dan raganya di sana. Saat manusia menemui jalan buntu, rasanya mereka hanya ingin melepaskan segalanya.

“Karena sesuatu yang disebut uang itu? Karena kau tidak punya itu?”

Itu salah satunya, tapi juga karena ayahnya. Habaek terdiam, teringat permintaan So Ah waktu itu untuk mempertemukannya dengan ayahnya. So Ah berkata kalau dia mengulang kembali hidupnya, dia juga benci dengan Korea.

“Tapi kau sekarang jauh lebih baik daripada saat aku pertama kali datang kemari. Kau punya mobil baru, punya ponsel baru.”

“Apa gunanya semua itu jika pada akhirnya kau akan pergi.” Ujar So Ah keceplosan. Dia buru-buru mengalihkan topik menanyakan maksud Habaek tentang Hoo Ye.

“Aku bilang padanya untuk tidak merayu wanitaku,” alasan Habaek yang jelas membuat So Ah mendelik kaget mendengarnya.

Habaek beralasan kalau dia menangkap basah Hoo Ye yang ingin merayu So Ah, jadi dia memperingatkan Hoo Ye bahwa dia butuh izin darinya jika dia ingin merayu So Ah.

Tanpa mereka sadar, Hoo Ye sebenarnya ada di sana, sedang memperhatikan mereka. Dia mulai mengerti maksud So Ah saat So Ah bercerita bahwa belakangan ini dia mulai bergantung pada seseorang dan banyak berharap dari orang itu.

Lebih parahnya lagi, So Ah mulai terbuka pada orang itu. Padahal tidak seharusnya dia terbuka dan bergantung pada orang itu. Karena orang itu pada akhirnya akan pergi… tapi orang itu bukan manusia.

Keesokan harinya, Habaek baru bangun dan melihat So Ah sudah berangkat kerja. Teringat ucapan So Ah dulu tentang perbedaan diantara mereka, dia langsung menelepon So Ah dan mengajaknya pulang bareng lagi.

Ja Ya memperlihatkan foto model cantik pada Ketua Shin dan mengklaim kalau dia juga bisa jadi terkenal setelah melakukan photoshot semacam ini. Tapi saat Ketua Shin meng-zoom out gambar itu, dia malah mendapati itu foto setengah bug*l.

Ketua Shin sontak marah dan mengancam Ja Ya untuk tidak melakukan hal seperti itu atau dia tidak akan memberikan warisan sedikitpun untuknya. Berhenti saja dan bekerjalah di shopping mall-nya Hoo Ye.

Ja Ya heran, bukankah Hoo Ye yang ingin membeli tanahnya Ketua Shin. Berpikir sejenak, tiba-tiba saja dia setuju. Lagipula dia kan harus mewarisi bisnis Ketua Shin nanti, jadi dia akan mulai latihan mulai dari sekarang. Ketua Shin jelas senang. Tapi sepertinya Ja Ya punya rencana tertentu.

Incoming search terms:

  • allinurl: Goblin: The Lonely and Great God episode
  • sinopsis drama manusia baru karya sanusi pane